Wednesday, December 14, 2011
Pertanda si Dia Jodoh Anda
Pertanda 1
Rahasia sepasang kekasih agar bisa memiliki umur hubungan yang panjang adalah adanya saling berbagi. Anda dan dia selalu bisa saling membantu, entah itu pekerjaan sepele atau besar. Paling penting adalah Anda berdua selalu bisa menikmati segala aspek kehidupan secara bersama-sama. Dan semuanya terasa amat menyenangkan meskipun tanpa harus melibatkan orang lain. Nah, apakah Anda sudah merasakan hal tersebut? Jika ya, selamat berarti ada harapan bahwa dia adalah calon pendamping hidup Anda!
Pertanda 2
Salah satu kriteria yang menentukan cocok tidaknya dia itu jodoh Anda atau bukan adalah kemampuannya bersikap santai di depan Anda. Coba sekarang perhatikan, apakah gerak geriknya, caranya berpakaian, gaya rambutnya, caranya berbicara serta tertawanya mengesankan apa adanya? Apakah setiap ucapannya selalu tampak spontan dan tidak dibuat-buat? Jika tidak, (maaf) kemungkinan besar dia bukan jodoh Anda.
Pertanda 3
Adanya kontak bathin membuat hati Anda berdua bisa selalu saling tahu. Dan bila Anda atau si dia bisa saling membaca pikiran dan menduga reaksi serta perasaanya satu sama lainnya pada situasi tertentu. Selamat! Mungkin sebenarnya dialah belahan jiwa Anda yang tersimpan...
Pertanda 4
Bersamanya bisa membuat perasaan Anda menjadi santai, nyaman tanpa perasaan tertekan. Berjam-jam bersamanya, setiap waktu dan setiap hari tak membuat Anda merasa bosan.. Ini bisa sebagai pertanda bahwa Anda berdua kelak bisa saling terikat.
Pertanda 5
Dia selalu ada untuk Anda dalam situasi apapun. Dan dia selalu bisa memahami cuaca dalam hati Anda baik dalam suka dan duka. Percayalah pasangan yang berjodoh pasti tak takut mengalami pasang surut saat bersama. Sekarang, ingat-ingat kembali. Apakah dia orang pertama yang datang memberi bantuan tatkala Anda dirundung musibah? Dia selalu paham saat PMS Anda datang menyerang? Dia tau keadaan waktu anda sakit.........Jika ya, tak salah lagi. Dialah orangnya...
Pertanda 6
Dia tak terlalu peduli dengan masa lalu keluarga Anda, dia tak peduli dengan masa lalu Anda saat bersama kekasih terdahulu. Dia juga tak malu-malu menceritakan masa lalunya.. Nah, kalau begitu ini bisa berarti dia sudah siap menerima Anda apa adanya..
Pertanda 7
Setiap orang pasti memiliki kekurangan, dan Anda tak malu-malu memperlihatkannya pada si dia. Bahkan pada saat Anda tampil 'buruk' di depannya sekalipun, misalnya saat Anda bangun tidur atau saat Anda sakit dan tak mandi selama dua hari.
Pertanda 8
Bila Anda merasa rahasia Anda bisa lebih aman di tangannya daripada di tangan sahabat-sahabat Anda. Atau Anda merasa sudah tak bisa lagi menyimpan rahasia apapun darinya, maka berbahagialah! Karena ini bisa berarti pasangan sejati telah Anda temukan!
Apakah kedelapan pertanda di atas telah Anda temukan padanya?
Tuesday, December 6, 2011
Fadhilah dan Keutamaan Hari ‘Asyura
Tuesday, November 1, 2011
Bukan Pria Idaman
Ciri Pertama: Akidahnya Amburadul
Di antara ciri pria semacam ini adalah ia punya prinsip bahwa jika cinta ditolak, maka dukun pun bertindak. Jika sukses dan lancar dalam bisnis, maka ia pun menggunakan jimat-jimat. Ingain buka usaha pun ia memakai pelarisan. Jika berencana nikah, harus menghitung hari baik terlebih dahulu. Yang jadi kegemarannya agar hidup lancar adalah mempercayai ramalan bintang agar semakin PD dalam melangkah.
Inilah ciri pria yang tidak pantas dijadikan idaman. Akidah yang ia miliki sudah jelas adalah akidah yang rusak.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman.” (Al Fawaid)
Berarti jika aqidah dan iman seseorang rusak -padahal itu adalah pokok atau pondasi-, maka bangunan di atasnya pun akan ikut rusak. Perhatikanlah hal ini!
Ciri Kedua: Menyia-nyiakan Shalat
Tidak shalat jama'ah di masjid juga menjadi ciri pria bukan idaman. Padahal shalat jama'ah bagi pria adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam al Qur'an dan berbagai hadits. Berikut di antaranya.
Lihatlah laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman, dan [4] banyak binatang buas. Namun karena dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya?!
Imam Asy Syafi'i sendiri mengatakan, “Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107)
Jika pria yang menyia-nyiakan shalat berjama'ah di masjid saja bukan merupakan pria idaman, lantas bagaimana lagi dengan pria yang tidak menjalankan shalat berjama'ah sendirian maupun secara berjama'ah?!
Seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan, ”Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”
Ciri Ketiga: Sering Melotot Sana Sini
Inilah ciri berikutnya, yaitu pria yang sulit menundukkan pandangan ketika melihat wanita. Inilah ciri bukan pria idaman. Karena Allah Ta'ala berfirman,
Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,
Boleh jadi laki-laki tersebut jika telah menjadi suami malah memandang lawan jenisnya sana-sini ketika istrinya tidak melihat. Kondisi seperti ini pun telah ditegur dalam firman Allah,
Ibnu 'Abbas ketika membicarakan ayat di atas, beliau mengatakan bahwa yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah seorang yang bertamu ke suatu rumah. Di rumah tersebut ada wanita yang berparas cantik. Jika tuan rumah yang menyambutnya memalingkan pandangan, maka orang tersebut melirik wanita tadi. Jika tuan rumah tadi memperhatikannya, ia pun pura-pura menundukkan pandangan. Dan jika tuan rumah sekali lagi berpaling, ia pun melirik wanita tadi yang berada di dalam rumah. Jika tuan rumah sekali lagi memperhatikannya, maka ia pun pura-pura menundukkan pandangannya. Maka sungguh Allah telah mengetahui isi hati orang tersebut yang akan bertindak kurang ajar. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (12/181-182).
Ibnu 'Abbas mengatakan, “Allah itu mengetahui setiap mata yang memandang apakan ia ingin khianat ataukah tidak.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid dan Qotadah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 12/182, Darul Qurthubah)
Ciri Keempat: Senangnya Berdua-duaan
Inilah sikap pria yang tidak baik yang sering mengajak pasangannya yang belum halal baginya untuk berdua-duaan (baca: berkhalwat). Berdua-duaan (khokwat) di sini bisa pula bentuknya tanpa hadir dalam satu tempat, namun lewat pesan singkat (sms), lewat kata-kata mesra via FB dan lainnya. Seperti ini pun termasuk semi kholwat yang juga terlarang.
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Ciri Kelima: Tangan Suka Usil
Ini juga bukan ciri pria idaman. Tangannya suka usil menyalami wanita yang tidak halal baginya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun ketika berbaiat dan kondisi lainnya tidak pernah menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.
Dari Abdulloh bin ‘Amr, ”Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita ketika berbaiat.” (HR. Ahmad dishohihkan oleh Syaikh Salim dalam Al Manahi As Syari’ah)
Dari Umaimah bintu Ruqoiqoh dia berkata, ”Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan para wanita, hanyalah perkataanku untuk seratus orang wanita seperti perkataanku untuk satu orang wanita.” (HR. Tirmidzi, Nasai, Malik dishohihkan oleh Syaikh Salim Al Hilaliy)
Zina tangan adalah dengan menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom sehingga ini menunjukkan haramnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Ciri Keenam: Tanpa Arah yang Jelas
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
Berarti kriteria pria idaman adalah ia bertanggungjawab terhadap istrinya dalam hal nafkah.
Sehingga seorang pria harus memiliki jalan hidup yang jelas dan tidak boleh ia hidup tanpa arah yang sampai menyia-nyiakan tanggungannya. Sejak dini atau pun sejak muda, ia sudah memikirkan bagaimana kelak ia bisa menafkahi istri dan anak-anaknya. Di antara bentuk persiapannya adalah dengan belajar yang giat sehingga kelak bisa dapat kerja yang mapan atau bisa berwirausaha mandiri.
Begitu pula hendaknya ia tidak melupakan istrinya untuk diajari agama. Karena untuk urusan dunia mesti kita urus, apalagi yang sangkut pautnya dengan agama yang merupakan kebutuhan ketika menjalani hidup di dunia dan akhirat. Sehingga sejak dini pun, seorang pria sudah mulai membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup untuk dapat mendidik istri dan keluarganya.
Sehingga dari sini, seorang pria yang kurang memperhatikan agama dan urusan menafkahi istrinya patut dijauhi karena ia sebenarnya bukan pria idaman yang baik.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa sebagai petunjuk bagi para wanita muslimah yang ingin memilih laki-laki yang pas untuk dirinya. Dan juga bisa menjadi koreksi untuk pria agar selalu introspeksi diri. Nasehat ini pun bisa bermanfaat bagi setiap orang yang sudah berkeluarga agar menjauhi sifat-sifat keliru di atas. Semoga Allah memudahkannya.
Friday, October 21, 2011
HUJAN
Dan yang tersisa setelah lebatnya hujan yang bergemuruh semalam, adalah rinduku padamu yang tak berkesudahan.
Rain... Rain... Rain...
Hujan aku selalu menyukainya, entah mengapa Hujan bagiku adalah sesuatu yang sangat romantis.
Falling into you
I see us inside of each other
I feel my unconscious merge with yours
And I hear a voice say, "What's his is hers"
I'm falling into you
This dream could come true
And it feels so good falling into you
I was afraid to let you in here
Now I have learned love can't be made in fear
The walls begin to tumble down
And I can't even see the ground
I'm falling into you
This dream could come true
And it feels so good falling into you
Falling like a leaf, falling like a star
Finding a belief, falling where you are
Catch me, don't let me drop!
Love me, don't ever stop!
So close your eyes and let me kiss you
And while you sleep I will miss you
I'm falling into you
This dream could come true
And it feels so good falling into you
Falling like a leaf, falling like a star
Finding a belief, falling where you are
Falling into you
Falling into you
Falling into you
Monday, May 31, 2010
Kafaah Syarifah
Kembali setelah sekian lama baru berani lagi posting sesuatu yang didapat dari berbagai sumber, saya berani menuliskan ini karena terus terang saya sendiri juga mengalaminya....
-- KAFA'AH --
Pemberlakuan kafaah bagi syarifah tidak dapat digolongkan sebagai adat, dan juga bukanlah 'ashobiah, sebab yang dapat digolongkan adat adalah apabila tidak ada perintah dan larangan seperti dalam syari'at, apalagi jika ia bertentangan dengan syari'at, yang demikian malah harus ditinggalkan.
Sedangkan masalah kafaah bagi syarifah, ia memang disyari'atkan karena ada sandaran dalil-dalilnya dalam Al-Quran dan Al-Hadis. Sedang 'Ashobiah yang ada pada umumnya biasanya menyebabkan putusnya tali jalinan persaudaraan, hubungan kemasyarakatan yang bersifat saling benci, saling menghina atau memboikot, menjelek-jelekan suku lain bahkan berlanjut saling bentrok atau sampai dapat menyebabkan peperangan antara mereka. Hal semacam inilah yang dilarang dan diancam Rasulullah SAW bagi ummatnya sebagaimana terjadi antara bani 'Aus dan Khozraj.
Rasulullah SAW bersabda:
"Dan tidak termasuk golongan kami orang yang menganjurkan 'ashobiah, dan tidaklah termasuk golongan kami orang yang berperang atas 'ashobiah, serta bukan pula golongan kami orang mati atas (sebab) 'ashobiah".
(H.R. Abu Daud)
Memuliakan Orang Mulia Adalah Pancaran Sifat Taqwanya Seseorang
Agama Islam secara umum menilai setiap manusia berdasarkan Iman, Ilmu, Amal dan Taqwanya. Namun Islam tidak pernah menafikan masalah keberadaan pertalian nasab dengan seseorang. Bahkan Islam menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang bertalian nasab kepada Nabi SAW. Terbukti dalam kitab-kitab fiqih tulisan Aslafuna-Ashsholihun, kita temukan mereka menetapkan dan menyediakan bab-bab khusus berkenaan dengan perihal keluarga Nabi Muhammad SAW.
Jadi Iman, Ilmu, Amal dan Taqwa bukanlah bererti sebagai suatu perkara yang dapat menyingkirkan keberadaan nilai penghormatan kepada mereka yang diberi keistmewaan oleh Allah SWT. Sebagaimana yang pernah diungkapkan secara keliru oleh sebagian orang.
Di antaranya seperti yang pernah diungkapkan oleh Sayid Sabiq (Dosen Universitas Al-Azhar) dalam bukunya yang berjudul Da'watul Islam (apa ini mungkin kesalahan/kekeliruan dari penterjemahnya atau bahkan ada maksud-maksud tertentu dari penterjemahnya, Wallahu a'lam?) di situ tertulis pernyataan sebagai berikut: "Mengganti standar yang konvensional dan regional menjadi ketentuan yang universal. Misalnya, kehormatan seseorang dinisbatkan kepada hubungan kerabat dan suku. Islam menggantinya dengan standar Taqwa dan aplikasinya yang berbentuk pemanfaatan ilmu dan amal nyata".
Dari kalimat kutipan tersebut memang tepat sekali bahwa standar dan aplikasi kehormatan serta kemuliaan seseorang terletak pada nilai taqwanya yang terpancar dari pemanfaatan ilmu dan amal yang nyata. Namun sampai sejauh mana dapat dikatakan bertaqwa bila kita tidak dapat mematuhi dan mentaati ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya secara sempurna, apalagi kita tidak mengenal nilai-nilai kehormatan pada seseorang yang jelas dapat ditelusuri keberadaannya dan kekhususannya.
Bahkan sebenarnya dengan standar nilai taqwa dan aplikasinya dalam ilmu dan amal nyata, akan menempatkan kehormatan dan kemuliaan (hubungan kefamilian) seseorang, sehingga tidak wajar apabila kedudukan hubungan kerabat harus diganti (yang bererti harus terhilangkan), akan tetapi yang benar seharusnya adalah: "Dengan standar Taqwa, Ilmu dan Amal Nyata akan memfungsi-baikan hubungan kerabat dan suku seseorang".
Hal ini sendiri telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW bahkan dengan taqwalah akan melahirkan kemuliaan bagi seseorang sebagai karunia Allah SWT kepadanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Tiada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam (bukan Arab), dan tiada kelebihan orang ajam atas orang Arab kecuali karena Taqwanya". (Al-Hadis) (Dengan taqwa akan menempatkan orang Arab dan ajam menjadi mulia). Namun nilai kemuliaan atau kelebihan ini tidak dapat langsung dinilai dan dipastikan oleh manusia, melainkan hak Qudroh dan Irodahnya Allah SWT. Kemudian mulia tidaknya seseorang itu sangat tergantung pada ketaqwaannya. Semakin tinggi kadar taqwanya kepada Allah SWT, semakin mulialah ia.
Dengan jelas sekali Allah SWT. Menerangkan hal ini di dalam firman-Nya:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".
(Q.S. Al-Hujarat: 13)
Dari ayat tersebut Allah SWT memberikan penjelasan bahwa Allah-lah yang mengeksistensikan (menjadikan keberadaan) manusia dalam bentuk berbangsa-bangsa dan bersuku-suku sehingga perlu bagi manusia untuk saling mengenal dan memahami. Karenanya, keberadaannya harus dijaga, dibina dan difahami.
Meski begitu, Allah SWT menegaskan bahwa di antara manusia yang diciptakan dari berbagai bangsa dan beragam suku itu, yang terbaik serta termulia adalah yang paling bertaqwa di sisi Allah SWT. Kalimat Atqokum (yang paling bertaqwa di antara kalian) menunjukkan pada suatu otoritas (wewenang) Tuhan terhadap kemuliaan seseorang hamba, sedang penilaian antara sesama hamba hanya dapat dilihat secara lahiriyah saja. Yang jelas kita tahu akan kemuliaan Ahlul-Bait Rasulullah SAW lewat berita Ilahiyah dan Nabawiyah yang tentunya tidak ada sedikitpun keraguan sama sekali kebenarannya.
Memuliakan orang-orang mulia sangat dianjurkan dalam Islam dan dibenarkan dalam menampakkan kemuliaan tersebut. Bahkan dalam Islam diberi peluang untuk saling mendapatkannya bukan menghilangkannya. Dengan syarat, niatnya harus didasarkan kepada suatu keikhlasan sesuai dengan tuntutan Allah SWT karena mencari keredhaan-Nya.
Hal ini tergambar jelas dalam peristiwa sejarah tentang ketulusan sahabat mulia Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq r.a. ketika dalam majlis Rasulullah SAW, kedatangan Imam Ali Karamallahu Wajhah. Ia, Abu Bakar r.a. waktu itu berusaha memberikan tempat duduk yang berdekatan dengan Baginda Rasulullah SAW sebagai penghormatan kepadanya (Imam Ali). Di kala itu, tidak ada yang bersedia memberikan peluang untuk duduk, maka dengan serta merta keluarlah ucapan Rasulullah SAW menilai perilaku sahabat Abu Bakar r.a. dengan sabdanya:
"Sesungguhnya orang yang mengenal kepada orang yang mulialah termasuk orang mulia". (Al-Hadits)
Tampak sekali Sayyidina Abu Bakar r.a. memahami benar keberadaan hamba Allah SWT yang patut dihormati dan dimuliakan. Oleh sebab itu ia pun dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang mulia pula.
Kemuliaan sahabat Nabi SAW masing-masing mempunyai derajat tersendiri, begitu pula keluarga Rasulullah SAW, sebagai orang-orang yang mulia pula, dan tentunya juga kepada yang ada hubungan nasab dengan Beliau SAW.
Kemuliaan yang diperoleh oleh orang yang beriman dengan kebenaran Taqwanya kepada Allah SWT adalah kemuliaan yang bersifat umum. Lain halnya dengan kemuliaan Ahlul-Bait Rasulullah SAW dan keturunannya, mereka memperoleh kemuliaan berdasarkan kesucian dan hubungan kesucian yang dilimpahka Allah SWT kepada mereka yang bersifat khusus. Hal ini semua pun tidak akan berfungsi dengan baik tanpa ketaqwaan kepada Allah SWT karena dengan taqwalah mereka akan memperoleh kemuliaan khusus dan kemuliaan umum. Dan ini adalah merupakan penghargaan Allah SWT kepada kekasih-Nya junjungan kita baginda Nabi Muhammad SAW.
Sampai di sini jelaslah bahawa dalam pandangan Islam mereka adalah merupakan:
• Anugerah dan takdir Ilahiyah. Ia merupakan nikmat yang harus dijaga, dihargai, dipelihara, dihormati dan dilanjutkan serta ditempatkan sebagaimana semestinya.
• Amanat yang sangat membutuhkan tanggungjawab baik bagi kalangan Ahlul-Bait sendiri maupun bagi umumnya umat manusia, untuk jangan sampai dikhianati, dihentikan fungsinya, dicemari ataupun dihentikan keberadaannya dengan enggan atau tak mau menghargainya.
• Mercusuar yang dituntut kesuri-tauladannya, yakni dengan menempatkan diri mereka sebagai suri tauladan yang tidak jauh dari Al-Quran dan Al-Hadis, sehingga dari mereka yang berkelebihan dalam bidang Ad-Dien (agama) mengemban misi bagi ummat Muhammad SAW dalam memahami keadaan dan dalam mengahadapi samudera kehidupan.
Dari ketiga hal di atas saja sudah dapat menunjukkan kepada kita akan tanggungjawab Ahlul-Bait dan kaum Muslimin di hadapan Allah SWT. Dan ini akan membawa keuntungan serta kebahagiaan yang besar apabila ketiga hal di atas dikembang-suburkan, difungsikan juga didayagunakan semaksimal mungkin sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Penjelasan dan pemahaman dalam masalah seperti ini perlulah diperdalam dan dipatrikan sebaik mungkin ke dalam lubuk hati sanubari setiap muslim, dibuktikan dengan amaliah (perbuatan) sehari-hari serta disebarluaskan sambil saling mengingatkan, menyampaikan dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.
